
Pada hari Selasa, 4 Agustus 2026 suasana di SMA Negeri 9 Tambun Selatan terasa berbeda dengan hadirnya kegiatan "Rumah Singgah Goes to School,” sebuah acara yang mempertemukan warga sekolah dengan para pelaku film Rumah Singgah. Acara ini menghadirkan Ciccio Manassero sebagai Toni, Messi Gusti sebagai Pika, dan Rena Haura sebagai Gadis. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat proses kreatif di balik layar sekaligus mendengar langsung pengalaman para pemain dalam membangun karakter dan menyampaikan pesan yang ingin dihadirkan melalui film tersebut.
Acara ini juga terasa semakin hidup karena adanya interaksi langsung antara siswa dan para pemain, yang membuat suasana diskusi menjadi lebih hangat dan tidak kaku. Adanya Q&A dengan para siswa, membuat suasana di lapangan sekolah semakin meriah. Sesi Q&A yang diikuti oleh para siswa. Pertanyaan pertama dibacakan oleh Kak Rena, yaitu “Ciccio Manassero, Messi Gusti, dan Rena Haura masing-masing berperan sebagai apa?” Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh Sarmah, “Kak Rena sebagai Gadis, Kak Messi sebagai Pika, Kak Cio sebagai Toni.” Setelah menjawab pertanyaan, Sarmah mendapatkan hadiah sebagai bentuk apresiasi dan kemudian melakukan sesi foto bersama para pemain.
Selanjutnya, pertanyaan dibacakan oleh Messi, yaitu “Apa wishlist-nya Pika dan Toni?” Pertanyaan tersebut dijawab oleh Zahira Salsabila, yang kerap dipanggil Zahira, “Kalau Pika wishlist-nya ke pantai, kalau Toni wishlist-nya ketemu masa lalu.” Sama seperti Sarmah, Zahira juga mendapatkan hadiah dan berkesempatan melakukan sesi foto bersama para pemain.



Q&A kemudian dengan pertanyaan yang dibacakan oleh Cio, “Apa definisi rumah singgah?” Pertanyaan tersebut dijawab oleh Abdul Rafee Ibrahim, yang kerap dipanggil Abdul, “Rumah singgah itu tempat tinggal sementara untuk orang yang mengidap penyakit kanker.” Setelah menjawab pertanyaan, Abdul menerima hadiah dan melakukan sesi foto bersama para pemain.
Keseruan tidak berhenti sampai di situ. Selanjutnya, ada sesi pembagian tiket nonton gratis bagi siswa yang paling cepat memasukkan film Rumah Singgah ke dalam wishlist mereka. Setelah itu, kegiatan kembali dilanjutkan dengan games menjawab kata yang tidak boleh sama. Dalam games tersebut, para cast bermain secara berkelompok, yaitu Kaila bersama Rena, Naomi bersama Messi, dan Rifki bersama Cio. Games berlangsung seru dan membuat suasana di lapangan semakin ramai karena masing-masing kelompok berusaha memberikan jawaban yang berbeda.
Setelah seluruh rangkaian games selesai, para cast dan crew film Rumah Singgah melakukan sesi foto bersama untuk mengabadikan momen kebersamaan selama kegiatan berlangsung. Momen tersebut sekaligus menjadi penutup yang menyenangkan dari rangkaian acara Rumah Singgah Goes to School di SMA Negeri 9 Tambun Selatan.
Dalam sesi wawancara, salah satu anggota Ekstrakurikuler Jurnalistik, Nasyira, berkesempatan mengajukan pertanyaan kepada Ciccio Manassero, salah satu pemeran film Rumah Singgah, mengenai proses pendalaman karakter yang ia jalani selama produksi film tersebut.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ciccio Manassero menjelaskan, "Proses pendalaman karakter ini membutuhkan persiapan yang cukup besar. Selama kurang lebih satu bulan, saya menurunkan berat badan hingga sekitar 8 kilo gram. Jika dibandingkan dengan kondisi saya saat ini, tentu cukup jauh. Saat ini berat badan saya sekitar 78 kilo gram, sedangkan pada awal proses syuting saya sempat berada di angka 67 kilo gram. Selain itu, di pertengahan proses syuting saya juga menjalani adegan yang mengharuskan rambut saya dicukur hingga botak sebagai bagian dari tuntutan karakter."
Selanjutnya, Nasyira juga menanyakan adegan yang paling berkesan selama proses pembuatan film Rumah Singgah. Menjawab pertanyaan tersebut, Ciccio Manassero mengungkapkan, "Ada dua adegan yang paling berkesan bagi saya, tetapi belum bisa saya ceritakan karena merupakan golden scene dalam film ini. Yang membuat kedua adegan tersebut sangat membekas bukan karena sulit mendapatkan emosinya, melainkan karena saya kesulitan melepaskan diri dari emosi karakter. Bahkan setelah sutradara mengatakan 'cut', saya masih belum bisa berhenti menangis."

Melalui sesi berbagi pengalaman ini, para siswa tidak hanya memperoleh gambaran mengenai proses produksi sebuah film, tetapi juga belajar bahwa totalitas, kerja keras, dan pengorbanan merupakan bagian penting dalam menghasilkan sebuah karya yang mampu menyentuh hati para penonton.
Semoga cerita di balik layar ini bisa memberikan gambaran tentang kerja keras seluruh tim dalam menggarap film ini. Terima kasih untuk Nasyira dan tim jurnalistik, sukses selalu untuk penerbitan karyanya (NR (8)/joursmanine)


